A. KOMPETENSI DASAR

3.10 Menganalisis ilmu Fotografi
3.10.1 Menggunakan ilmu Fotografi
3.10.2 Menganalisis ilmu Fotografi
4.10 Mengembangkan  referensi gambar sesuai ilmu  Fotografi
4.10.1. Menggunakan  referensi gambar sesuai ilmu  Fotografi
4.10.2. Mengembangkan  referensi gambar sesuai ilmu  Fotografi

 

B. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

  1. Menjelaskan ilmu fotografi
  2. Menguraiakan ilmu fotografi
  3. Melakukan pengambilan gambar sesuai ilmu fotgrafi
  4. Menyajikan pengambilan gambar sesuai ilmu fotografi

 

C. TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Setelah berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik mampu menjelaskan ilmu fotografi
  2. Setelah berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik mampu menguraikan ilmu fotografi
  3. Dengan disediakan kamera, siswa terampil dalam melakukan pengambilan gambar sesuai ilmu fotografi dengan benar dan percaya diri.
  4. Dengan disediakan computer/laptop, siswa terampil dalam meenyajikan hasil pengambilan gambar sesuai ilmu fotografi dengan benar dan percaya diri.

 

D. POKOK-POKOK MATERI:

    1. Pengertian Fotografi
    2. Sejarah Fotografi
    3. Tujuan Fotografi
    4. Unsur Fotografi
    5. Kategori Fotografi
    6. Jenis-jenis Foto
    7. Interpretasi Fotografi

D. MATERI PEMBELAJARAN

  1. Pengertian Fotografi

Fotografi berasal dari kata ‘photos’ berarti cahaya, dan ‘graphos’ berarti menggambar yaitu bagaimana kita menggambar menggunakan cahaya. Sebuah karya foto  tidak  dapat  dihasilkan  tanpa  menggunakan  cahaya.  Pembentukan  gambar mati tersebut melalui suatu media disebut kamera. Alat ini mendistribusikan cahaya ke suatu bahan yang sensitif (peka) terhadap cahaya disebut negatif atau film. Sebenarnya pengertian  fotografi  tidak  hanya  terbatas  dari  definisi  kata  per  kata,  tetapi  dalam cakupan lebih luas lagi  dapat fotografi diartikan  sebagai  suatu  proses pengambilan gambar dengan media kamera, penciptaan gaya, teknik kemudian mengubahnya dalam sebuah gambar.

Melihat pengertian tersebut terlihat ada persamaan antara fotografi dan karya seni lukis atau menggambar. Yang jelas perbedaannya terletak pada media yang digunakannya. Bila dalam seni lukis yang dipakai gambar dengan menggunakan media warna (cat), kuas dan kanvas. Sedangkan dalam fotografi menggunakan cahaya yang dihasilkan lewat  kamera.  Tanpa adanya  cahaya  yang masuk  dan terekam  di  dalam kamera, sebuah karya seni fotografi tidak akan tercipta.

Selain itu, adanya film yang terletak di dalam kamera menjadi media penyimpan cahaya  tersebut.  Film  yang  berfungsi  untuk  merekam  gambar  tersebut  terdiri  dari sebuah lapisan tipis, lapisan itu mengandung emulsi peka di atas dasar yang fleksibel dan transparan. Emulsi mengandung zat perak halida, yaitu suatu senyawa kimia yang peka cahaya yang menjadi gelap jika terekspos oleh cahaya. Ketika film secara selektif terkena cahaya yang cukup maka sebuah gambar tersembunyi akan terbentuk. Tentunya gambar tersebut akan terlihat jika film yang telah digulung ke dalam selongsongnya kemudian dicuci dengan proses khusus.

Aktivitas berkreasi dengan cahaya tersebut tentunya sangat berhubungan dengan pelakunya (subjek) dan objek yang akan direkam. Setiap pemotret mempunyai cara pandang yang berbeda tentang kondisi cuaca, pemandangan alam, tumbuhan, kehidupan hewan  serta   aktivitas  manusia   ketika  melihatnya   di   balik  lensa   kamera.  Cara memandang atau persepsi inilah yang kemudian direfleksikan lewat bidikan kamera. Hasilnya sebuah karya foto yang merupakan hasil ide atau konsep dari si pembuat foto.

Andreas Feininger (1955) pernah menyatakan bahwa “kamera hanyalah sebuah alat untuk menghasilkan “karya seni”. Nilai lebih dari karya seni itu dapat tergantung dari orang yang mengoperasikan kamera tersebut. Tampaknya ungkapan Feininger ada benarnya. Bila kamera diumpamakan sebagai gitar, tentunya setiap orang bisa memetik dawai gitar tersebut. Tapi belum tentu mampu memainkan lagu yang indah dan enak didengar.  Begitu  halnya  dengan  kamera,  setiap  orang  dapat  saja  menjeprat-jepret dengan kamera untuk menghasilkan sebuah objek foto, tapi tidak semua orang yang mampu memotret itu menghasilkan karya imaji yang mengesankan. Sebuah foto yang sarat akan nilai dibalik guratan warna dan komposisi gambarnya. Bila sebuah karya foto adalah hasil kreativitas dari si pemotret, tentu saja ada respon dari orang yang memandangnya. Almarhum Kartono Ryadi, fotografer kawakan di negeri ini pernah berkomentar, bahwa foto yang bagus adalah foto yang mempunyai daya kejut dari yang lain.

Menurut dia foto yang bagus adalah foto yang informatif yang mencakup konteks, content, dan komposisi (tata letak dan pencahayaan). Maksud dia, konteks berarti ada hal yang ingin divisualkan dengan jelas, misalnya tentang pemandangan. Di sisi  lain,  istilah  content  maksudnya  apa  yang  ingin  ditampilkan  untuk  memenuhi konteks gambar tersebut.

 

  1. Sejarah Fotografi

Sejarah fotografi bermula jauh sebelum Masehi. Dalam buku The History of Photography karya Alma Davenport, terbitan University of New Mexico Press tahun 1991, disebutkan bahwa pada abad ke-5 Sebelum Masehi (SM), seorang pria bernama Mo  Ti  sudah  mengamati  sebuah  gejala.  Apabila  pada  dinding ruangan  yang  gelap terdapat lubang kecil (pinhole), maka di bagian dalam ruang itu akan terefleksikan pemandangan  di luar ruang secara  terbalik lewat lubang tadi.  Mo  Ti  adalah orang pertama yang menyadari fenomena camera obscura.

Cara kerja kamera obscura inilah model kamera pertama.

 

Beberapa abad kemudian, banyak orang yang menyadari serta mengagumi fenomena ini, beberapa diantaranya yaitu Aristoteles pada abad ke-3 SM dan seorang ilmuwan Arab Ibnu Al Haitam (Al Hazen) pada abad ke-10 SM, dan kemudian berusaha untuk menciptakan serta mengembangkan alat yang sekarang dikenal sebagai kamera. Pada tahun 1558, seorang ilmuwan Italia, Giambattista della Porta menyebut ”camera obscura”  pada  sebuah  kotak  yang membantu  pelukis menangkap  bayangan  gambar (Bachtiar: 10).

Menurut   Szarkowski   dalam   Hartoyo   (2004:   21),   nama   camera   obscura diciptakan olehJohannes Keppler pada tahun 1611:“By the great Johannes Keppler has designed a portable camera constructed as a tent, and finaly give a device a name that stuck: camera obscura… The interior of the tent was dark except for the light admitted by a lens, which foucussed the image of the scene outside onto a piece of paper.” (Pada tahun 1611 Johannes Keppler membuat desain kamera portable yang dibuat seperti sebuah tenda, dan akhirnya memberi nama alat tersebut sebuah nama yang terkenal hingga   kini:   camera   obscura…   Keadaan   dalam   tenda   tersebut   sangat   gelap kecualisedikit cahaya yang ditangkap oleh lensa, yang membentuk gambar keadaan di luar tenda di atas selembar kertas).

Fotografi mulai tercatat resmi pada abad ke-19 dan lalu terpacu bersama kemajuan-kemajuan lain yang dilakukan manusia sejalan dengan kemajuan teknologi yang sedang gencar-gencarnya. Pada tahun 1839 yang dicanangkan sebagai tahun awal fotografi. Pada tahun itu, di Perancis dinyatakan secara resmi bahwa fotografi adalah sebuah terobosan teknologi. Saat itu, rekaman dua dimensi seperti yang dilihat mata sudah bisa dibuat permanen.Fotografi kemudian berkembang dengan sangat cepat. Menurut Szarkowski dalam  Hartoyo  (2004:  22),  arsitek  utama  dunia  fotografi  modern  adalah  seorang pengusaha, yaitu George Eastman. Melalui perusahaannya yang bernama Kodak Eastman,  George  Eastman  mengembangkan  fotografi  dengan  menciptakan  serta menjual roll film dan kamera boks yang praktis, sejalan dengan perkembangan dalam dunia fotografi melalui perbaikan lensa, shutter, film dan kertas foto.

Tahun 1950 mulai digunakan prisma untuk memudahkan pembidikan pada kamera Single Lens Reflex (SLR), dan pada tahun yang sama Jepang mulai memasuki dunia fotografi dengan produksi kamera NIKON. Tahun 1972 mulai dipasarkan kamera Polaroid yang ditemukan oleh Edwin Land. Kamera Polaroid mampu menghasilkan gambar tanpa melalui proses pengembangan dan pencetakan film.Kemajuan teknologi turut memacu fotografi secara sangat cepat. Kalau dulu kamera sebesar tenda hanya bisa menghasilkan gambar yang tidak terlalu tajam, kini kamera digital yang cuma sebesar dompet mampu membuat foto yang sangat tajam dalam ukuran sebesar koran.

 

  1. Tujuan Fotografi

Tujuan fotografi bila ditinjau dari bidang dan lapangan penerapan menjadi :

  • Penerangan bertujuan untuk mendidik, atau memungkinkan pengambilan keputusan yang bena Contoh foto disurat kabar, majalah, buku petunjuk dan lain-lain.
  • Informasi  untuk   tujuan   tertentu   bertujuan   untuk   menarik   perhatian seseorang.
  • Penemuan Bertujuan untuk membuka lapangan pekerjaan baru, memperluas cakrawala dan pandangan intelektual, serta meningkatkan taraf hi Contoh, foto untuk keperluan riset dan pengetahuan baru.
  • Pencatatanuntuk mengabadikan pengetahuan dan kenyataan. Contoh, fotokatalog, reproduksi karya seni.
  • Hiburan untuk memunculkan kemungkinan sumber hiburan yang terbatas dan untuk kesenanga Contoh, foto perjalanan, pemoteretan amatir cerita bergambar dsb.
  • Pribadi hampir  tiap  obyek  dapat  di  abadikan  secara  tidak  terbatas  dan berbeda-beda. Dengan gambar dapat diutarakan tentang dunia perasaan, ide dan pikiran-pikiran mereka

 

  1. Unsur-unsur Fotografi

Suatu  karya  fotografi  harus  diapresiasi  dengan  cara  dideskripsikan  dengan unsur-unsur yang terkandung didalamnya, antara lain :

  1. Obyek foto (Subject Matter): orang, benda,tempat atau kejadian yang ada didalam fototersebut, serta menyebutkan karakter  obyek-obyek  tersebut.  Misal  : gedung tinggi yang monumental, anak-anak yang sedang berlari riang gembira, dll.

 

 

  1. Bentuk dan teknik (Form) :
    • Unsur-unsur yang menyusun, mengatur dan membangun foto yaitu titik, garis, bidang, bentuk, warna, cahaya, tekstur, massa, ruang dan volume.
    • Deskripsi tinjauan pada : rentang nada warna/hitam-putih, kontras objek, kontras kertas, format film, sudut pandang, jarak objek, lensa yang dipakai, pembingkaian, ruang tajam, tingkat ketajaman folus, ketajaman butiran, ds
    • Menggunakan prinsip-prinsip desain seperti skala, proporsi, kesatuan dalam keragaman, keseimbangan, arah gaya dan penekana
  2. Media (Medium)  : Deskripsi  media  dapat  mencakup  unsur  teknis seperi  unsur penyinaran, alat bantu penyinaran, alat bantu pemotretan, ds Mencakup semua aspek yang turut membangun terciptanya ekspresi si seniman pada karya foto serta dampak yang timbul bagi pelihatnya.
  3. Gaya (Style) : adalah menyangkut spirit jaman, gerakan seni, periode waktu, dan faktor geografi yang mempengaruhi seniman dalam membuat karya foto, yang bisa dikenali dari karya foto, teknis pemotretan dan media fot

 

  1. Kategori Fotografi

Dari  masa  ke  masa  orang  membuat  kategori  fotografi  berdasarkan  obyek (subject matter) atau bentuknya (form), tetapi dalam perkembangannya sebagai salah satu media komunikasi visual, dirasa perlu membuat suatu kategori baru yang dapat mengakomodasi setiap jenis foto yang ada / dibuat. Kategori yang dibuat harus mencakup seluruh jenis fotografi dari mulai foto seni atau non-seni, foto dokumentasi keluarga sampai foto yang dipamerkan di museum atau galeri. Penggolongan suatu foto ke dalam suatu kategori diperlukan suatu interpretasi awal. Kedudukan foto dalam suatu kategori  sangat  penting dalam  rangka  membaca atau menginterpretasi foto tersebut lebih lanjut dalam konteksnya. Kategori baru ini diklasifikasi berdasar pada bagaimana suatu karya foto dibuat dan apa fungsi dari karya foto tersebut (Barret, Terry, 2000, p.54). Menurut Barret kategori fotografi adalah sbb:

  1. Foto deskriptif (descriptive photographs) Foto-foto yang termasuk dalam kategori ini adalah:
  • Foto identitas diri (pas foto),
  • Foto medis atau klinis (foto sinar-x),
  • Foto mikrografi (foto hasil pengamatan suatu obyek dari mikroskop),
  • Foto eksplorasi kebumian dan angkasa luar,
  • Foto pengintaian (kepolisian dan militer / penegak hukum),
  • Foto reproduksi benda seni / lukisan, ds

Foto-foto jenis ini secara akurat  menggambarkan benda (subject matter) yang direpresentasikannya. Contoh foto karya Daniel H. Gould (1971) yang menggambarkan partikel virus penyebab kanker di bawah mikroskop dengan perbesaran 52.000 kali (lampiran foto A, foto 5). Foto seperti ini memungkinkan dokter  melakukan  studi  atas  mekanisme  pembentukan  penyakit  kanker  dan menemukan terapi atau pencegahan yang tepat atas penyakit tersebut.

  1. Foto yang menjelaskan sesuatu (explanatory photographs).

Foto jenis ini memiliki sifat menjelaskan suatu fenomena, kejadian, yang dapat menjadi bukti visual dari suatu teori ilmiah, baik ilmu fisik maupun ilmu sosial (sosiologi visual dan antropologi visual).

Foto-foto yang termasuk dalam kategori ini biasanya menunjukkan tempat dan waktu spesifik yang dapat menjadi bukti visual yang dapat dilacak kebenarannya.   Untuk   dapat   masuk   dalam   kategori   ini   suatu   foto   harus menunjukkan penjelasan visual yang dapat diverifikasi dalam disiplin ilmu tertentu oleh seorang pakar dalam ilmu tersebut. Contohya Foto karya Harold Edgerton yang menggambarkan foto dirinya memegang balon yang meletus ditembus peluru menunjukkan  sifat  lintasan  proyektil  peluru  ketika  ditembakkan.  Dengan  foto seperti ini dapat diverifikasi (oleh ahli fisika) bahwa proyektil peluru memiliki kecepatan 15.000 mil/jam dan ketika menumbuk suatu benda keras proyektil peluru dapat pecah menjadi fragmen-fragmen.

  1. Foto Interpretasi (Interpretive photographs).

Tidak  seperti  foto  ilmiah  yang  sangat  obyektif,  foto  interpretasi  lebih bersifat  simbolik,  puitik,  fiksi,  dramatik  dan  diinterpretasi  secara  subyektif- personal. Foto interpretasi pada umumnya dibuat (making photographs) bersifat hasil kreasi (expansive moments) dan bukan diambil (taking photographs) seperti halnya foto candid atau menemukan momen seperti foto dokumenter-jurnalistik (decisive moments).

  1. Foto etik (ethically evaluative photographs).

Kategori ini memuat foto-foto yang memuat aspek-aspek sosial kemasya- rakatan  yang harus dinilai  secara  etik. Foto-foto  tentang perang  dan  akibatnya (masalahpengungsi, imigran), penyakit menular yang mematikan (AIDS, SARS, dll.), wabah dan kelaparan, kehidupan kelas bawah (pengemis, anak jalanan, dll.), ketergantungan narkoba, isu-isu etnik-agama-ras seperti karya Carrie Mae Weems, serta perusakan lingkungan, masuk dalam kategori ini. Iklan politik dan propaganda pemerintah serta iklan komersial (baik produk maupun jasa) juga masuk dalam kategori ini. Foto-foto etik ini umumnya juga membawa misi meningkatkan hubungan kemasyarakatan yang dibangun dari kesadaran dan kepedulian akan perbedaan. Selain menggambarkankepincangan sosial, foto-foto etik ini bisa saja menggambarkan sesuatu yang positif, misalnya potret tokoh wanita yang inspirasional  (seperti  Indira  Gandhi,  Margaret  Tatcher,  dll).  Kategori  ini  juga

 

 

mengakomodasi  foto-foto  yang  menggambarkan  kehidupan  masyarakat  dalam suatu sistem ekonomi-politik tertentu (kapitalis-liberal, sosialis-marxis, dll.).

  1. Foto estetik (aesthetically evaluative photographs).

Kategori ini mencakup karya foto yang biasa kita sebut ”foto seni”, foto- foto  yang  memerlukan  tinjauan  dan  kontemplasi  estetik.  Foto-foto  ini  adalah tentang benda sebagai obyek estetik yang difoto dengan cara estetik. Umumnya foto-foto nude tentang studi bentuk tubuh manusia, foto-foto lansekap (alam, kota, atau gabungan bangunan dengan alam) ala Ansel Adams, foto still life, foto jalanan (street photography) ala Henri Cartier-Bresson, foto mosaik, foto eksperimental kamar  gelap  (alternative  processes),  masuk  dalam  kategori  ini.  Dibandingkan dengan kategori lainnya, foto estetik lebih mengeksplorasi bentuk (form) dan media (medium) daripada obyeknya (subject matter) sendiri (karya Jock Struges dan karya John Coplans). Obyek foto boleh jadi tidak indah seperti contoh foto Richard Misrach yang menggambarkan sapi-sapi yang mati di pinggir jalan bersalju.

  1. Foto teori (theoretical photographs).

Kategori ini mencakup foto tentang fotografi, foto tentang seni dan pembuatan karya seni, politik seni, foto tentang film, model representasi, dan teori- teori tentang fotografi. Foto jenis ini biasanya menjadi semacam reproduksi dari suatu karya seni. Apa yang kita kenal sebagai seni konseptual serta fotografi konseptual masuk dalam kategori ini seperti karya Zeke Berman dan Sarah Charlesworth.

 

  1. Jenis-jenis foto

Kategori-kategori tersebut diatas dapat di breakdown lagi kedalam jenis-jenis foto, bertujuan untuk memperkenalkan beberapa jenis foto sebagai referensi lebih jauh lagi dalam memperdalam pengetahuan dunia fotografi. Jenis-jenis foto disini hanya sebagai pengelompokan secara garis besar, yang membantu mempermudah kita dalam memahami sebuah karya fotografi, dan ini bukan sebagai penggolongan yang paten untuk menghasilkan karya foto.

  1. Foto Manusia

Foto manusia adalah semua foto yang obyek utamanya manusia, baik anak-anak sampai orang tua, muda maupun tua. Unsur utama dalam foto ini adalah manusia, yang dapat menawarkan nilai dan daya tarik untuk divisualisasikan. Foto ini dibagi lagi menjadi beberapa kategori yaitu :

  • Portrait

Portrait adalah foto yang menampilkan ekspresi dan karakter manusia dalam kesehariannya. Karakter manusia yang berbeda-beda akan menawarkan image tersendiri  dalam  membuat  foto  portrait.  Tantangan  dalam  membuat  foto portrait adalah dapat menangkap ekspresi obyek (mimic, tatapan, kerut wajah) yang   mampu   memberikan   kesan   emosional   dan   menciptakan   karakter seseorang

 

  • Human Interest

Human Interest dalam karya fotografi adalah menggambarkan kehidupan manusia  atau  interaksi  manusia  dalam kehidupan  sehari-hari  serta  ekspresi emosional yang memperlihatkan manusia dengan masalah kehidupannya, yang mana kesemuanya itu membawa rasa ketertarikan dan rasa simpati bagi para orang yang menikmati foto tersebut.

  • Stage Photography

Stage Photography adalah semua foto yang menampilkan aktivitas/gaya hidup manusia yang merupakan bagian dari budaya dan dunia entertainment untuk dieksploitasi dan menjadi bahan yang menarik untuk divisualisasikan.

  • Sport

Foto olahraga adalah jenis foto yang menangkap aksi menarik dan spektakuler dalam event dan pertandingan olah raga. Jenis foto ini membutuhkan kecermatan  dan  kecepatan  seorang  fotografer  dalam  menangkap  momen terbaik.

  • Fotografi Glamour (Glamour Photography)

Orang awam kadang-kadang menyamakannya dengan pornografi, mungkin karena menampilkan ke seksian dan erotis tetapi sebenarnya bukanlah suatu hal yang porno. Alih-alih berfokus pada ketelanjangan atau pose seram, fotografi glamour berusaha untuk menangkap objek dalam pose yang menekankan kurva dan bayangan. Seperti namanya, tujuan fotografi glamor adalah untuk menggambarkan model dalam cahaya glamor.

  • Fotografi Pernikahan (Wedding Photography)

Fotografi pernikahan adalah campuran dari berbagai jenis fotografi. Meskipun album pernikahan adalah sebuah foto dokumenter dari hari pernikahan, foto pernikahan dapat diolah dan diedit untuk menghasilkan berbagai efek. Sebagai contoh,  seorang  fotografer  bisa  mengolah  beberapa  gambar  dengan  toning sepia untuk memberi mereka lihat, lebih klasik abadi.

Sebagai tambahan, seorang fotografer pernikahan harus memiliki keahlian dalam  fotografi  potret,  mereka  juga  harus  menggunakan  teknik  foto  yang glamor untuk mengabadikan momen terbaik.

 

  1. Foto Nature

alam jenis foto nature obyek utamanya adalah benda dan makhluk hidup alami (natural) seperti hewan, tumbuhan, gunung, hutan dan lain-lain.

  • Foto Flora

Jenis foto dengan obyek utama tanaman dan tumbuhan dikenal dengan jenis foto flora. Berbagai jenis tumbuhan dengan segala keanekaragamannya menawarkan nilai keindahan dan daya tarik untuk direkam dengan kamera.

  • Foto Fauna

Foto fauna adalah jenis foto dengan berbagai jenis binatang sebagai obyek utama. Foto ini menampilkan daya tarik dunia binatang dalam aktifitas dan interaksinya.

  • Foto Lanskap

Foto lanskap adalah jenis foto yang begitu popular seperti halnya foto manusia. Foto lanskap merupakan foto bentangan alam yang terdiri dari unsur langit, daratan dan air, sedangkan manusia, hewan, dan tumbuhan hanya sebagai unsur pendukung dalam foto ini. Ekspresi alam serta cuaca menjadi moment utama dalam menilai keberhasilan membuat foto lanskap.

 

  1. Foto Arsitektur

Kemanapun   anda   pergi   akan   menjumpai   bangunan-bangunan   dalam berbagai ukuran, bentuk, warna dan desain. Dalam jenis foto ini menampilkan keindahan suatu bangunan baik dari segi sejarah, budaya, desain dan konstruksinya. Memotret suatu bangunan dari berbagai sisi dan menemukan nilai keindahannya menjadi sangat penting dalam membuat foto ini. Foto arsitektur ini tak lepas dari hebohnya dunia arsitektur dan teknik sipil sehingga jenis foto ini menjadi cukup penting peranannya.

 

  1. Foto Still Life

Foto still life adalah menciptakan sebuah gambar dari benda atau obyek mati. Membuat gambar dari benda mati menjadi hal yang menarik dan tampak “hidup”, komunikatif, ekspresif dan mengandung pesan yang akan disampaikan merupakan bagian yang paling penting dalam penciptaan karya foto ini. Foto still life bukan sekadar menyalin atau memindahkan objek ke dalam film dengan cara seadanya, karena bila seperti itu yang dilakukan, namanya adalah mendokumentasikan. Jenis foto ini merupakan jenis foto yang menantang dalam menguji kreatifitas, imajinasi, dan kemampuan teknis.

 

  1. Foto Jurnalistik

Foto jurnalistik adalah foto yang digunakan untuk kepentingan pers atau kepentingan informasi. Dalam penyampaian pesannya, harus terdapat caption (tulisan yang menerangkan isi foto) sebagai bagian dari penyajian jenis foto ini. Jenis foto ini sering kita jumpai dalam media massa (Koran, majalah, bulletin, dll).

 

  1. Fotografi Makro (Macro Photography)

Fotografi makro adalah jenis fotografi dengan pengambilan gambar dari jarak dekat. Fotografi ini membutuhkan peralatan yang canggih dan mahal, akan tetapi fotografer amatir dapat berlatih dengan menggunakan mode macro pada kamera digital. Objek fotografi makro dapat berupa serangga, bunga, bulir air atau benda lain yang kalau di close-up kan akan menghasilkan detail yang menarik.

  1. Fotografi Mikro (Micro Photography)

Fotografi mikro menggunakan kamera khusus dan mikroskop untuk menangkap gambar objek yang sangat kecil. Kebanyakan aplikasi fotografi mikro paling  cocok  untuk  dunia  ilmiah.  Misalnya,  fotografi  yang  digunakan  dalam disiplin ilmu yang beragam seperti astronomi, biologi dan kedokteran.

  1. Fotografi Aerial (Aerial Photography)

Seorang fotografer aerial mempunyai spesialisasi dalam mengambil foto dari udara. Foto dapat digunakan untuk survei atau konstruksi, untuk memotret burung atau cuaca pada film atau untuk tujuan militer. Fotografer aerial biasanya menggunakan   pesawat,   parasut,   balon   dan   pesawat   remote   control   untuk mengambil foto dari udara.

  1. Fotografi Bawah Air (Underwater Photography)

Fotografi bawah air biasanya digunakan oleh penyelam scuba atau perenang snorkel. Namun, biaya scuba diving, ditambah dengan peralatan fotografi sering mahal dan berat di bawah air, membuat ini salah satu jenis kurang umum dalam dunia fotografi. Demikian pula jika seorang fotografer amatir yang sudah memiliki peralatan fotografi bawah air dan peralatan scuba, mengambil gambar bawah air dapat  menjadi  sesuatu  yang  sulit,  karena  kacamata  scuba  yang  besar  dan mendistorsi visi fotografer.

  1. Fotografi Seni Rupa (Fine Art Photography)

Fotografi seni rupa, juga dikenal hanya sebagai fotografi seni, mengacu pada cabang fotografi yang didedikasikan untuk memproduksi foto untuk tujuan murni estetika. Fotografi seni, yang biasanya dipajang di museum dan galeri, umumnya berkaitan dengan penyajian benda-benda yang indah atau benda biasa dengan cara yang indah untuk menyampaikan intensitas dan emosi.

 

 

  1. Interpretasi Fotografi

Jika kita membahas foto sebagai penangkap waktu, kita berurusan dengan tiga jenis foto:

  1. Foto dengan  waktu  mengambang,  waktu  seolah-olah  berhenti,  bisa  kapan  saja. contoh: foto lansekap, still life.
  2. Foto dengan  waktu  puncak  atau  sering  disebut  decisive  moment,  instant,  tak terulang.
  3. Foto dengan waktu acak, sebelum atau sesudah waktu puncak, foto sepintas lalu dari kehidupan sehari-hari yang seolah-olah dibuat dengan serampangan, ambigu (bermakna ganda), dan secara komposisi klasik tidak seimbang.

Pembuatan karya fotografi harus berdasarkan Deskripsi dan interpretasi. Deskripsi dan interpretasi harus dinyatakan dengan baik dan terstruktur, terutama jika menyangkut rasa dan perasaan. Kita dapat menggunakan dasar pertanyaan: “Apa yang saya  rasakan? Mengapa  saya  merasakan hal ini? Bagian  mana  dari  karya  ini  yang menggugah perasaan saya: obyeknya, bentuknya, atau medianya?”.

Umumnya kita menggunakan istilah-istilah atau kata-kata sifat sebagai berikut: masuk akal, menarik, pencerahan, berwawasan, bermakna, membuka pikiran, asli (original), atau sebaliknya: tidak beralasan, tidak masuk akal (absurd), tidak mungkin, tidak dapat dipercaya, tidak pantas, tidak layak, tidak cocok, tragedi, menyedihkan, menegangkan, mengerikan, dan lain-lain.

Interpretasi yang benar dapat masuk akal dan obyektif sejauh berdasar kaidah- kaidah tersebut di atas. Suatu interpretasi bahkan belum tentu benar meski datang dari si seniman sendiri, karena mungkin si seniman berkarya tanpa intensi (khusus) tertentu alias iseng-iseng saja, atau tidak perduli akan intensinya, dan menyerahkan apresiasi sepenuhnya  padapengamat.  Bisa  jadi  kita  sedang  berurusan  dengan  seniman  yang bekerja  atas  dorongan  lubuk  hati  atau  pikiran  bawah  sadarnya  (subconciousness), seperti karya-karya Cindy Sherman, Sandy Skoglund, atau surealis ala Jerry Uelsmann. Tetapi satu hal yang jelas, interpretasi yang baik dari seseorang terbuka terhadap interpretasi lain dari orang lain, jadi (mungkin) di sinilah letak subyektivitasnya. Kita mengandaikan bahwa ada banyak orang lain yang sedang menginterpretasi karya ini juga. Tidak ada satu interpretasi yang sungguh benar karena kita bisa menggunakan dasar  interpretasi  berbeda.  Di  sinilah pentingnya  peran  komunitas fotografi  sebagai ajang diskusi, tukar-menukar interpretasi. Seniman akan merasa dihargai karena ada sekelompok orang yang secara konsisten merekonstruksi karya-karyanya, membuatnya lebih matang berkarya.Kini  jelaslah  bagi  kita  suatu opini atau apresiasi yang tidak berdasar pada ukuran-ukuran yang diuraikan di atas adalah tidak berarti, tidak bermutu, dan tidak berguna. Suatu penilaian atas karya foto yang hanya berdasar rasa suka atau tidak suka, meletakkan penilaian hanya berdasar unsur teknis semata, atau menganggap suatu karya foto (apalagi foto seni) adalah subyektif merupakan penilaian yang dangkal, kerdil, dan tidak bertanggung jawab.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Pemanfaatan Kamera Digital dan Pengolahan Imagenya, 2005, Yogyakarta : Andi dan Wahana Komputer.

Hadiiswa, Fotografi Digital, Membuat Foto Indah dengan Kamera Saku, 2008, Jakarta Selatan : Media Kita.

Taylor, David, Understanding RAW Photography, 2013, Jakarta : Elex Media Komputindo. Modul Fotografi

Slide perawatan peralatan fotografi oleh Maulida Rahmi, ST Slide presentasi fotografi oleh Bisma FS

Bahan Ajar TIK SMKN 1 KUTSEL Tata Cahaya

 

Website:

http://scdc.binus.ac.id